Sejak beberapa abad sebelum ajaran orang-orang yang “terlanjur” kita anggap sebagai syekh, kyai, ustadz, atau ulama mengenai agama Islam masuk Indonesia, seorang pemikir Barat yang lahir pada tahun 1818, Karl Marx, melontarkan kata yang bernada leceh: “Agama itu ibarat candu.” Tampaknya, sekalipun kita tidak setuju dengan banyak ajarannya, Marx tidak main-main dengan ucapannya itu.
Perubahan sosial masyarakat, banyak ditentukan oleh pola-pikir dan cara-pandang masyarakatnya atas suatu masalah. Oleh karena itu, Allah mengharuskan setiap manusia menguasai ilmu untuk mengendalikan kekhalifahannya. Jika tidak, seseorang atau masyarakat yang keliru dalam memahami dunianya, tentu saja, mereka akan tampak setengah-gila serta serba merepotkan. Contohnya, munculnya berbagai kecaman akibat keresahan tokoh-tokoh muslim yang panik atas rencana Polri mengawasi dakwah mereka yang memang hanya “membodohi” ummat Islam itu sendiri.
Menurut sejarah, ajaran (agama) Islam yang dianut masyarakat-bangsa Indonesia hingga hari ini, baru terbatas pada tafsiran orang-orang yang “dianggap” sebagai ulama. Perasaan “hidup” menjadi pusat perhatian ditengah sekelompok orang, telah berubah menjadi sebuah kekuatan untuk secara terus-menerus membodohi lebih banyak orang. Akibatnya, ummat Islam tidak kunjung mengerti tentang maksud Allah dan para nabi, tetapi hanya tenggelam dibawah hegemoni ulama dan kyai.
Sebenarnya, Islam ajarkan bagi setiap muslim untuk senantiasa memudahkan kehidupan bagi semua-mua, dengan penguasaan ilmu yang memadai. Hal ini hanya dapat dicapai dengan cara-cara dialog, musyawarah dan rerasanan secara terbuka, tanpa menganggap diri lebih lihai dengan berbagai sebutan ulama, atau semacamnya.
Dengan demikian, pengawasan dakwah menjadi lebih terjamin bagi pemahaman yang murni atas maksud-maksud Islam. Beranikah “ulama” yang selama ini selalu congkak melawan tugas-tugas kemanusiaan global menjawab berbagai pertanyaan dari: penjual beras, tukang-becak, polisi, dokter, bankir, arsitek, seniman, tukang pijat, dll? Sekaranglah saatnya kita duduk sama rendah di segala tempat untuk coba memahami dunia kita.


![Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU] Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU]](http://static.flickr.com/7102/7204258846_3843eb8ecb_t.jpg)
Komentar Terakhir