27
Agu
09

Polri Vs Ulama Mabuk

Sejak beberapa abad sebelum ajaran orang-orang yang “terlanjur” kita anggap sebagai syekh, kyai, ustadz, atau ulama mengenai agama Islam masuk Indonesia, seorang pemikir Barat yang lahir pada tahun 1818, Karl Marx, melontarkan kata yang bernada leceh: “Agama itu ibarat candu.” Tampaknya, sekalipun kita tidak setuju dengan banyak ajarannya, Marx tidak main-main dengan ucapannya itu.

Perubahan sosial masyarakat, banyak ditentukan oleh pola-pikir dan cara-pandang masyarakatnya atas suatu masalah. Oleh karena itu, Allah mengharuskan setiap manusia menguasai ilmu untuk mengendalikan kekhalifahannya. Jika tidak, seseorang atau masyarakat yang keliru dalam memahami dunianya, tentu saja, mereka akan tampak setengah-gila serta serba merepotkan. Contohnya, munculnya berbagai kecaman akibat keresahan tokoh-tokoh muslim yang panik atas rencana Polri mengawasi dakwah mereka yang memang hanya “membodohi” ummat Islam itu sendiri.

Menurut sejarah, ajaran (agama) Islam yang dianut masyarakat-bangsa Indonesia hingga hari ini, baru terbatas pada tafsiran orang-orang yang “dianggap” sebagai ulama. Perasaan “hidup” menjadi pusat perhatian ditengah sekelompok orang, telah berubah menjadi sebuah kekuatan untuk secara terus-menerus membodohi lebih banyak orang. Akibatnya, ummat Islam tidak kunjung mengerti tentang maksud Allah dan para nabi, tetapi hanya tenggelam dibawah hegemoni ulama dan kyai.

Sebenarnya, Islam ajarkan bagi setiap muslim untuk senantiasa memudahkan kehidupan bagi semua-mua, dengan penguasaan ilmu yang memadai. Hal ini hanya dapat dicapai dengan cara-cara dialog, musyawarah dan rerasanan secara terbuka, tanpa menganggap diri lebih lihai dengan berbagai sebutan ulama, atau semacamnya.

Dengan demikian, pengawasan dakwah menjadi lebih terjamin bagi pemahaman yang murni atas maksud-maksud Islam. Beranikah “ulama” yang selama ini selalu congkak melawan tugas-tugas kemanusiaan global menjawab berbagai pertanyaan dari: penjual beras, tukang-becak, polisi, dokter, bankir, arsitek, seniman, tukang pijat, dll? Sekaranglah saatnya kita duduk sama rendah di segala tempat untuk coba memahami dunia kita.

23
Agu
09

Pengawasan Dakwah sebagai Keharusan

Hampir semua pelaku teror di berbagai wilayah di Indonesia, berlatar belakakang santri. Mereka cukup fasih dalam mengutip ayat-ayat Alqurän sebagai pengobar semangat kelompoknya untuk melakukan aksi-aksi teror. Anehnya, tidak satupun tokoh muslim yang menyadari atas “kesalahan” paham yang terlanjur diyakini oleh banyak kelompok ummat Islam itu.

Padahal, anggapan masyarakat atas kebenaran terhadap “brutalisme” yang dilakukan oleh Trio “Anjing” -Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra-Bom Bali I sebagai “Syuhada”, terlanjur diperdengarkan secara luas pasca eksekusi. Sepuluh bulan kemudian, pembenaran pemahaman itu kembali mereka tegaskan lewat spanduk: “Selamat Datang Asy Syahid, Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono,” di Kampung Brengosan, Purwosari, Solo 12 Agustus 2009.

Perlunya kontrol atas dakwah yang dilakukan para dai, kyai, ustadz dan ulama justru datang dari pihak Polri. Langkah baik yang hendak diinisiasi itu pun, agaknya, masih ditanggapi secara negativ oleh banyak kalangan muslim, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) H. Umar Syihab.

Mengawali bulan Ramadhan ini, kita coba mulai merenung. Jangan-jangan,selama ini kita terlalu “membebek” pada tafsiran orang2 yang terlanjur dianggap sebagai ulama. Kebebasan berijtihad, menjadi penting agar masyarakat mengerti kehendak Allah dan RasulNya.

Dari tulisan-tulisan sebelumnya, saya menghendaki MUI segera membubarkan-diri. Keberadaan MUI sama-sekali tidak mendidik, tetapi hanya gemar meniup peluit semacam fatwa yang tidak solutif.

28
Mei
09

Neraka Gaza, Buah dari Kebodohan Umat Islam

Sebenarnya kalau kita mau jujur, maka segala soalan yang acap-kali menelikungi masyarakat internasional dalam usaha merintis Peradaban-Baru dalam satu bumi, terletak pada kekeliruan muslim dalam berkeagamaan. Jika agama kita anggap sebagai ajaran hidup dari Tuhan, maka mempertandingkan kebenaran-kebenaran dari keberagaman agama akan menjurus pada sikap yang justru menentang terhadap Kehendak Tuhan itu sendiri. Akibat dari itu, kemanusiaan kita akan diperbudak oleh nafsu untuk membinasakan dan dapat menjurus pada penolakan atas kehidupan itu sendiri.

Hehehe .. Agaknya, kalimat diatas masih sulit dipahami oleh umat Islam, yang karena pemahamannya atas Islam terlanjur diyakininya sebagai ajaran -seperti didalihkan Dr. Qurais Shihab MA, yang mantan Menteri Agama RI itu-, yang bersumber dari qalbu (hati), dan bukan akal-pikiran. Karena itu kita akan selalu sulit setiap-kali berhadapan dengan kaum muslimim, karena mereka sudah terlebih-dulu menyumbat rapat-rapat mata, telinga dan akal-pikiranya. Lhah ..? Memang begini ini repotnya.

Saya menuliskan uraian ini juga ibarat main lottere, yang serta-merta dapat saja menjadi sampah. Begitu pun masih lebih baik ketimbang apes dijihad oleh kebodohan mereka. Ckakakak ….

Barangkali, beberapa contoh akan mempermudah pada pemahaman buat mereka yang muslim. Begini: Memerangi Yahudi, misalnya, yang sementara ini masih saja dianggap sebagai seruan Jihad.

Siapa pun Anda, pada awal kehidupannya tentu tanpa niat. Hidup kita, sebenarnya, hanyalah “keterlanjuran”. Kita tidak dapat memilih: kapan, dimana, menjadi jenis mahluk-hidup yang mana, dan akak keluar dari rahim siapa, maka tau-tau kita terlahir. Mudeng, tidak?

Artinya, Anda lahir tidak dari perut babi itu sudah merupakan keberuntungan. Atau, bagaimana jika Anda terlahir dari rahim Yahudi yang selalu dimusuhi oleh muslim. Kemudian, apakah Anda akan menerima sikap permusuhan itu?

Kalau pun soalan wilayah yang menjadi alasan kebenciannya terhadap Israel, maka hal itu lebih menunjukan gagalnya pengikut Muhammad dalam memaknai ajaran Islam yang dianutnya.

Kefakiran selalu dekat pada kejahatan. Dengan demikian perlu ada usaha kepeduliam terhadapnya yang bersumber dari sodaqoh, zakat ataupun yang telah dimodernisasikan menjadi sistem perpajakan. Dengan demikian, hasilnya dapat dimanfaatkan kepada pihak yang fakir tadi agar tertolong oleh kesanggupan lingkungannya untuk berkurban. Pendudukan suatu wilayah oleh bangsa Israel di tengah bangsa-bangsa Arab, lebih menunjukkan suatu dampak dari bangsa-bangsa Arab yang melalaikan ajaran Tuhan.

19
Mei
09

Masjid Darussalam, jangan Ada yang Menyamai

Berawal dari kegemarannya berfikir tentang realitas hidup dan kehidupan masyarakat sekelilingnya, lambat-laun menjadikan Muhammad sebagai pribadi yang kaya gagasan dan kreatif. Usai bekerja, ia dan sahabat-sahabatnya yang kian bertambah banyak itu menjadi lebih terbiasa mengadakan rerasanan soal perlunya usaha perbaikan (da’wah) pada sikap dan prilaku sosial.

Rupanya, usaha (ibadah) itu mendatangkan juga sikap perlawanan dari sebagian masyarakat jahiliyah yang lain, yang masih gemar menyembah berhala (benda-benda). Para penguasa lokal ketika itu, merasa terancam posisinya oleh kepiawaian Muhammad sang Rasul Allah dalam menggalang massa yang dipimpinnya.

Untuk mengindari konflik yang ditengarai bakal menjebak misi da’wah itu sendiri, memaksa kaum muslimin untuk berpindah (hijrah) ke tempat yang lebih aman, bahkan sering pula harus bersembunyi.

Begitupun, jika keadaan memaksa, barulah kaum muslimin mengangkat senjata.

Maka dimana pun Muhammad dan pengikutnya singgah dan tinggal, di tempat itu pula mereja mendirikan tempat khusus. Kecuali untuk melakukan shalat bersama sekaligus sebagai tempat rerasanan dalam membangun strategi.

Akan tetapi, masjid yang dari awalnya merupakan tempat yang banyak menjanjikan nilai-nilai kemudahan (pahala) -dan dikiaskan pula mengandung (tidak cuma) 27 derajat dibanding shalat sendirian- itu, sekarang, tidak lagi gampang bin mudah kita temui. Hal ini lebih menunjukan pada kekeliruan umat Islam pasca Rasulullah, dalam memahami pesan-pesan Islam sesuai Kehendak Allah.

Islam yang sedianya untuk membina penganutnya agar mampu memudahkan orang lain serta seluruh alam, sekarang, kian menjadi “jauh panggang dari api”. Praktis, umat Islam menjadi bangsa yang paling gagap dan mudah tergerus oleh perubahan.

Karena kebodohan yang sedemikian tingginya itu, maka umat Islam nyata-nyata menjadi manusia yang paling keras kepala, merasa paling berhak hidup ketimbang bangsa lain.

Di kelurahan Kebumen, misalnya, saya temukan satu tempat ibadah yang dikelola oleh “bandit-bandit bergamis dan berpeci”. Uniknya, Masjid Darussalam ini menjadi langganan sambaran petir. Dan, harap maklum, kejadian yang unik itu justru menjadikannya sebagai berkah-khusus untuk menyodok dana ke pemda. Sedangkan hasil dari kotak-amal Jumätan, dan kotak-kotak sumbangann yang memprèmani tempat-tempat umum seperti: warung-warung, toserba dan perhotelan, itu yang lebih … wah, eksentrik lah. Ckakakak … eh, sampai tertawa.

Buta akan fungsi masjid dan kemasjidan, “bandit-bandit berjubah ta’mir” itu menutup-diri dengan “tembok anti sosial” yang lebih kontroversial. Timbul pertanyaan, bagaimana jika dibalik pagar itu berkembang menjadi tempat prostitusi, misalnya?

Tiap kali menjelang waktu shalat fardlu, “bandit-bandit berpeci” itu selalu memutar kaset bajakan dengan volume soud-system yang sanggup membangunkan janin dan orang-orang jompo yang tengah lelap. Bacaan ayat-ayat Alqurän, adzan dan iqamah, mereka lacurkan untuk menenggelamkan citra Islam dengan cara yang paling telanjang.

“Astaghfirullah”, ucap saya seperti tercekat ketika Jumät, 15 Mei 2009 pagi hendak menegur “bandit-bandit berpeci” itu. Untuk sekali saja (mudah-mudahan), saya memasuki masjid dengan kaki kiri lebih dulu, karena baitullah yang sejatinya suci, itu terlanjur mereka najiskan.

.

Ditulis, karena hati dan pendengaran “bandit-bandit berpeci” itu tetap nekat menampar gendang telinga warga sekitar. Hehehe …

02
Mei
09

Muslim dan Plinplanisme

Tanpa boleh memilih: dari rahim siapa atau dimana kita bakal lahir, maka saya lebih sreg untuk menganggap bahwa hidup adalah sebuah keterlanjuran. Karena terlanjur, maka kita pun lantas menuntut dan memberontak. Satu-satunya kekuatan untuk memuntut keadaan, saat masih bayi itu, hanyalah dengan tangis.

Kemudian, orang-tua memenuhinya kewajiban dengan memberi seserpih demi beberapa serpih hak apa saja yang kita maui hingga kita mandiri. Mata-rantai itulah yang Allah maksudkan sebagai takdir: yakni hukum sebab-akibat (kausalitas).

DiwahyukanNya Al-Qurän sebagai “ajaran kemandirian” lewat para nabi itu pun tidak dalam bentuk bruk ujug-ujug segluntung. Akan tetapi lewat seserpih demi beberapa serpih pula. Sampai kemudian (Al-Qurän yang sejatinya memang tidak sempurna itu) Allah “mencukupkannya” sebagai petunjuk (hujjah) dengan menutup masa kenabian kepada Muhammad sang Rasul.

Pasca Rasulullah wafat, maka Allah tidak lagi cawe-cawe dalam urusan remeh-temeh duniawi. Jika sebelumnya Allah sering-kerap Membuat Keajaiban berupa mukjizat seperti mentakdiri Kang_Tobor jadi kroco DPRD, sekarang sudah bukan zamannya lagi. Betapa pun sejuta kali lipat kaum muslimin sedunia berdoa, “Ya Allah. Limpahkan kepada kami rezeki yang buanyak,” misalnya, maka mustahil akan ada sehelai uang melayang turun dari langit.

Bohong besar, jika kemerdekaan Republik Indonesia atas peran dan Rahmat Allah terhadap umat Islam. Kesan itu lebih bersifat membual yang justru lebih menjadikan generasi “pemimpi” setelahnya.
Sesungguhnya, kemerdekaan itu murni sebagai hasil perjuangan rakyat dalam menjalankan kewajibannya mengatasi soalan bangsanya. Dengan demikian, maka berhasil atau tidaknya perjuangan reformasi di Indonesia hanya bergantung pada kesungguhan kita sebagai generasi atas tanggung-jawabnya terhadap dunia dan Tuhannya.

Pasca wafatnya Rasulullah, manusia harus (wajib) sudah mandiri dengan kekuatan akal. Allah sendiri tidak membatasi kekuatan akal hambaNya, maka Dia mensifatkan diri atau DzatNya menjadi Ghaib (tak terjangkau). Disinilah hakikat Allah sebagai Tuhan Yang Suci.

Menjadi ironis jika, ternyata, umat Islam gobloknya menjadi kian ‘allaihim. Non-muslim sudah hebat-hebat dalam berkarya untuk memberi kemudahan (pahala>surga) kepada masyarakat internasional, umat muslim malahan lebih gemar membuka konflik (kesulitan>neraka) bagi diri-sendiri serta generasi setelahnya. Praktis, kaum muslimin menjadi bangsa yang malas berfikirnya nomor wahid.

Paham Islam mengenai segala sesuatu sebagai sudah “digariskan” oleh Allah, jelas merupakan pemahaman Islam Sesat serta menyesatkan. Siang nanti, misalnya, kita makan kerupuk merah atau kuning sebagai sudah ditakdirkan, lebih merupa ucapan manusia yang oön dan plinplan. Dalam Qurän secara jelas disebutkan: “Aku (Allah) tidak akan merubah keadaan, kecuali mereka mau merubahnya.”

27
Apr
09

MUI dan Petaka Kemusliman

Sejatinya, Allah menghendaki agar setiap muslim selalu mengkondisikan-diri dalam usaha keselamatan orang lain. Karena itu, seorang yang Islam, harus memiliki penguasaan ilmu (keulamaan) dalam segala aktivitasnya.

Keulamaan akan mengarahkan tiap individu kepada tindakan untuk memudahkan orang lain. Menyingkirkan duri dari jalan pun merupakan tindakan yang mengandung sifat keulamaan (alhadist).

Menyingkirkan duri dapat pula diterapkan pada tindakan (amalan) yang lebih luas. Memberi aba sebelum kita berbelok ketika berkendara, semata-mata untuk memudahkan pengendara lain agar tidak dibuat kaget. Disitulah terkandung amalan yang sekaligus sebagai ibadah.

Mungkin saja kita dapat selamat tanpa memberikan aba. Akan tetapi, dengan mengabaikan keberadaan pengendara lain, amalan kita tidak memiliki nilai ibadah. Hal yang demikian lebih mengindikasikan sebagai sikap menang-menangan, sikap yang tidak islami.

Kelengahan selalu dekat dengan kesulitan dan cenderung mencelakai. Itu sebabnya Islam mengajarkan kita selalu dalam kondisi setimbang (berendah hati). Bangga karena memiliki sifat keulamaan pun dapat pula mencelakai orang lain maupun diri-sendiri.

Mengaku diri sebagai ulama akan mengarahkan pada kesombongan dan keangkuhan. Apalagi jika dilembagakan macam Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Keangkuhan dalam jamaah akan mendorong pada sikap yang berlebihan dan sulit dicegah. Jika sudah “kebelet” main fatwa, petaka iman pun dapat mudah terjadi.

Labelisasi Halal merupakan bentuk kesombongan lain disamping fatwa. Sekarng, daging babi sudah “dihalalkan” masuk ke perut kita. Mengkambing-hitamkan tukang tempel stiker, atau menuding produsen itu lebih mencerminkan kebodohan atas labelisasi itu sendiri.

Ulama itu manusia biasa. Orang yang memiliki sifat keulamaan, justru tidak menonjolkannya terhadap yang lain. Muhammadiyah, dalam hal ini, dapat menjadikan kita sedikit berbesar hati. Budaya mengkyaikan dan mengulamakan seseorang, akan cenderung mematikan kepekaan seorang muslim atas lingkungannya.

Karena itu, jangan ucap lagi Pak Kyai atau Ulama kepada mereka. Dengan demikian kita tidak ikut-ikutan menyumbat mata dan telinga keulamaan umat Islam.

18
Apr
09

Kuwalat KPU

Dua hari menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif 9 April 2009, ternyata, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menggelar Doa Bersama tokoh agama-agama, untuk meminta Kedaulatan Tuhan agar Pemilu sukses. Di zaman yang sudah “kemajon” (terlalu maju) untuk ukuran umat Islam yang serba carut-marut karena keterbelakangannya itu, masih saja kita berpasrah-pasrah pada Tangan Tuhan.

“Selama ini kita sudah menjalankan kedaulatan rakyat, maka malam ini kita melakukan Kedaulatan Tuhan. Kalau Tuhan sudah menghendaki, siapapun yang menghalangi suksesnya pemilu ini akan hancur dengan sendirinya,” demikian antara lain papar Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, di gedung KPU (7/04).

Pasca wafatnya Muhammad, Allah telah menegaskan bahwa setiap muslim adalah khalifatullah yang segala amalannya harus senantiasa dilandasi dengan akal dan pengetahuan. Keberhasilan bukan lagi menjadi urusan Allah, melainkan bergantung pada perencanaan serta pengkondisian dengan banyak faktor pendukung. Demikian, mengenai takdir atau kausalitas yang menjadi hukum alam.

Maka kekisruhan pemilu, seperti pendataan pemilih hingga proses perhitungan suara pun, harus dipahami sebagai ketidakmampuan pada penyelenggara.

Sekedar contoh, pelaksanaan perhitungan suara di tempat pemungutan suara (TPS), masih didominasi oleh orang-orang tua diatas 45 tahun yang serba lamban, stasioner, serta tidak kreatif. Mereka sudah terlalu uzur dan tampak pemalas untuk urusan prediksi sikon lapangan, persiapan kerja, pendataan, hingga pelaporan.

Sementara, generasi muda dibawah 30 tahun, atau yang baru tamat SMU, masih saja kita anggap sebagai “kencur”. Jangankan kegiatan yang positif, sedangkan yang merampok, menipu, dll pun akan berhasil tanpa mengkait-kaitkan dengan Kedaulatan Tuhan, asal dikondisikan segalanya dengan matang. Jadi, namanya ibadah bukan melulu nawaitu-nawaitu doang. Mosok sedikit-sedikit, takdir. Sedikit-sedikit, takdir..?

Notes, tulisan ini diposting sebelum hasil Pemilu diumumkan secara resmi oleh KPU.

16
Apr
09

Judi Nasional 9 April Menuju “Neraka” bagi Bangsa

Sisa waktu bagi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2004-2009 membuahkan pengkhianatan partai-partai politik (parpol) terhadap rakyat dan bangsanya semakin “njarag” dan telanjang. Pemecatan terhadap anggota DPR yang melakukan korupsi dari keanggotaan parpol Islam seperti PPP, PBR, PAN dan PKS lebih bersifat khianat.

Slogan “antikorupsi” yang parpol tawarkan lebih tampak kosong dan tanpa makna. Sulit membedakan antara Parpol dengan tukang stiker atau tukang sablon. Korupsi, bagi parpol, seperti kentut yang tidak dapat ditahan. Korupsi itu hajat. Manakala terjadi dorongan dan celah, seketika itu pula “kentut-politik” itu menebar lewat kader-kader parpol di DPR.

Antikorupsi itu amanat reformasi. Antikorupsi itu tekad memerangi. Korupsi itu musuh. Tanpa pernah melakukan studi efek maupun studi dampak dari tindak korupsi, parpol tak akan pernah berhasil memenangi perang. Karena keIslaman kita sekarang sudah sesat, maka mereka pun menjadi bagian dari kejahatan korupsi.

Di DPR banyak terdapat bahan-bahan untuk produktivitas kentut. Untuk meraih kursi DPR periode 2009-2014, para bandit politik bertaruh dengan kisaran 300-an juta rupiah lewat Parpol, sebagai Mafia Politik Indonesia.

Sampai sekarang, riak-riak dari perjudian nasional 9 April 2009 itu masih terdengar sumbang dalam berbagai kekecewaan.

Dosa, menurut Islam, adalah kesulitan yang kita perbuat. Dan itu akan semakin menyulitkan dalam lima tahun kedepan. Akumulasi dari berbagai kesulitan itulah Allah maksudkan dengan neraka.

Alhamdulillah, saya kontra MUI dan tetap Golput. Begitu pun saya ikut memenangi Judi Nasional itu, karena kantongi 25, 20 dan 10 ribu rupiah dari tiga calon bandit DPRD II dari dua Mafia Politik. El-èm-yé lah, bisa beli rokok, yang kata MUI haram. Ckakakak …

06
Apr
09

Depkominfo-Polda Metro Jaya BURU NABI MUHAMMAD

Kebhinekaan seolah masih dirasa sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk diterima. Kebhinekaan dari berbagai suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) itu, yang acap-kali menjadi alasan pembenar dari suatu tindakan seseorang/kelompok, adalah soalan agama.

Agama, terutama Islam, sering menjadi alasan seseorang atau berjamaäh dalam berharap dan bertindak. Bahkan, alasan agama dapat berada di balik peristiwa alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kecelakaan darat-laut-udara. Sesuatu yang kadang aneh bagi pemeluk agama lain. tetapi harus diterima. Tidak mengiyakan atau menyoal, bisa dikenai pasal ‘penistaan’ agama. Mengapa demikian?

Islam -yang sejatinya merupakan ajaran dari Tuhan untuk keselamatan seluruh ummat manusia serta alam-, itu hanya dipahami oleh penganutnya, atau yang disebut kaum muslimin itu, sebagai sekedar agama. Kaum muslimin, yang merupakan mayoritas di Indonesi, itu banyak yang tidak mengerti hakikat yang dipesankan oleh Islam. Islam yang hanya dijadikan sebagai simbol, tentulah tidak akan pernah merahmati, bahkan akan cenderung mencelakai.

Karena mayoritas, maka yang meneror dengan “polisi tidur” dijalan-jalan umum, yang kebut-kebutan, yang korupsi, yang kolusi, yang nepotis, yang merancang sistem pemilu yang tidak efisien, yang tidak becus sebagai pemimpin RT dst, pelaku kriminal dll, siapa lagi jika bukan Muslim-KTP?.

Islam yang sebenarnya membina pada kesalehan hidup untuk mensejahterai, oleh Muslim-KTP diperalat untuk menuding: kafir, Nasara, “Barat”; menikahi anak dibawah umur; menelantarkan anak-anak dan kaum ibu lewat poligami; dll. Bahkan syarat jadi presiden RI pun, minimal yang Islam-KTP.

Di dunia “maya” internet, lewat chating, blog, dan berita online semacam swaramuslim.net pun, para Muslim-KTP suka mengusili ummat minoritas dengan sesuka hati. Menyoal Injil, menyebut Yesus sebagai gelandangan tak berbaju yang diTuhankan, mengobarkan perang dengan musuh-musuh Allah,dll. Saya sendiri, yang merasa muslim dan entah sekedar Muslim-KTP atau bukan, tidak kuasa memperingatkan dan menyadarkan mereka, para Muslim-KTP itu. Apalagi kalau yang memperingatkan non-muslim, bisa-bisa akan di”jihad”.

Bagi non-muslim, kondisi dan hubungan sosial-kemasyarakatan dan berkebangsaan macam begitu tentu tidak membuatnya nyaman. Memperingatkan, maka ketemunya bisa ancaman karena darahnya dianggap “halal”.

Karena Allah, Qurän, dan Nabi Muhammad merupakan simbol-simbol para Muslim-KTP, maka dipakailah simbol-simbol itu untuk diibaratkan. “Allah dudul,” maksudnya, bukan Allah yang jadikan IM-3 (Indonesia Muslimnya Morat-Marit), melainkan ummat islam yang terlalu dungu. “Nabi Cabul,” artinya, agar Muslim-KTP jangan menganggap nikah sebagai habis manis sepah dibuang.

Hendaknya, Bloger Penghina Nabi, lebih dapat dijadikan sebagai masukan. Muslim-KTP harus kembali pada pesan-pesan Islam. Muslim-KTP, yang merupakan mayoritas dalam keIndonesiaan ini, musti merintis kehidupan yang lebih berkemanusiaan.

Maka kiranya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh tidak perlu memblokir Bloger Penghina Nabi. Mereka tidak bermaksud memecah-belah. Ummat Islamlah yang selalu nyinggung-nyingung keyakinan agama lain. Zulkarnai Adinegoro, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, mosok sampai termakan isyu?

Jika Nabi memperingatkan, bahwa ummat Islam yang jumlahnya banyak, tetapi oön semua tanpa kecuali, mayoritas tetapi hanya laksana debu dihempas kentut lantas tercerai-berai, apakah Rasulullah menghina Islam, dan akan dikejar juga? Ya lucu, beliau sudah wafat 1.400-an tahun yang lampau. Sebagai bagian dari anak bangsa, marilah kita coba bersikap lebih arif, menuju masyarakat yang menghargai sesama.

*** Subhanallah

04
Apr
09

Mempercepat Kematian

Rabu, 1 April 2009 aku mengantar Bambang, teman sekaligus tetangga, menjenguk bapaknya di ruang Anggrek RSUD Kebumen. Disana sudah ada ibu, tiga kakak dan seorang adik Bambang.

Kondisi kesehatan Pak Skj, ayah Bambang, tampaknya tidak juga membaik, masih koma sejak enam hari dirawat di ruang ICU. Usianya 84 tahun. Sejenak kemudian aku keluar dan duduk di sisi koridor yang menghubungkan ruang-ruang rawat-inap yang lain.

Di ruang perawat, Ari, kakak Bambang sedang membicarakan rencana operasi dengan beberapa perawat. Pak Skj mengalami pendarahan pada otak, akibat terjatuh. Bambang keluar dan duduk di sebelahku.

“Kasihan, bapak,” keluh Bambang. Matanya seperti menerawang. “Harapan saya sih, kalau mau ‘diberi’ kesembuhan maka lekaskanlah. Begitu pun kalau mau ‘dipanggil’, segeralah.”

Aku memahami betul keluh Bambang. Karena sudah satu tahun lebih Pak Skj menderita strook. Semua anaknya sudah berkeluarga dan bekerja di kota lain. Pun mereka sering pulang manakala bapaknya kambuh.

“Ya, Mbang. Aku juga berharap pada hal yang terbaik,” jawabku menanggapi. “Tapi, aku tidak dapat mendoakan.”

Banyak keluarga yang mengalami dilema serupa, dengan bermacam-macam alasanya. Yang beragama Islam, banyak pula yang menyelenggarakan “yasiinan” agar Allah segera menurunkan keputusanNya.

Di Amerika -sebuah bangsa yang di satu sisi (karena gemar berfikir) sesuai dengan pesan Islam-, tidak lagi cuma berharap dan berdoa, malah sedang berupaya melegalkan UU euthanasia.

Euthanasia adalah sebuah alternatif untuk menjawab dilema seperti yang dikeluhkan di atas, yakni dengan cara-cara medis untuk mengakhri hidup seorang pasien. Tetapi, baru atas dasar pasien, dan belum mengarah pada permintaan keluarga si sakit.

Sebagai bangsa yang cenderung selalu menjadi makmum pada Barat selaku imam, maka kita (MUI, Muhammadiyah, NU, dll) menunggu hasilnya saja. Toh hal ini jauh lebih baik, ketimbang menolak tapi tidak solutif.

Sejatinya, pasca Rasul wafat, Allah telah mempersatukan alam dalam hukum sebab dan akibat (Takdir), termasuk kehidupan dan kematian itu sendiri. Soalan hak untuk hidup dan hak untuk mati, tampaknya menjadi penting untuk dikaji. Sayang, para pengikut Rasulullah terlanjur memonopoli pintu ijtihad, sehingga ummatnya tidak pernah mampu untuk merahmati orang lain.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.